SELAMAT DATANG DI BLOG http://bogor1975.blogspot.com SEMOGA ADA ARTIKEL BERMAMFAAT YANG DI DAPAT DARI KUNJUNGAN SAUDARA DI BLOG INI TERIMAKASIH
REGISTRASI KLIK DISINI

Senin, April 15, 2013

Apa ada Hubungan Cacing Dengan Wanita Mandul Dan Jantung Koroner ?


Hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa angka kemandulan
diantara para wanita yang berstatus ekonomi menengah ke atas dan
berkarier dikota-kota besar semakin meningkat. Hipotesis kreatif ini dilahirkan oleh
Prof. Dr. dr. Susilo WIbowo, Sp.and., Ms.Med yang kini menjabat sebagai rector universitas diponegoro. Menurutnya wanita yang kekurangan cacing atau belum pernah cacingan berisiko mengalami kemandulan / susah hamil.
 
Waduh bener tidak ya cacing ada mamfaat bagi tubuh..? Baca terus deh ..!

Dasar pemikiran beliau sangat ilmiah dan jauh dari kesan tidak serius.
Cacing didalam perut dalam jumlah yang proporsional akan merangsang aktifitas system pertahanan tubuh humoral (cair). Pertahanan tubuh humoral ini terdiri atas serangkaian proses yang meliputi penyelubungan cacing untuk membatasi ruang geraknya.
Jadi, cacing boleh bertamu dan bersilaturrahmi dalam tubuh manusia dengan syarat harus mengikuti peraturan yang berlaku demi kemaslahatan bersama.

Tahap selanjutnya adalah proses “penegakkan hokum” yang melibatkan imunoglobin, yaitu sebuah protein khusus yang dapat bertindak represif terhadap benda asing.
Imunoglobin yang biasa disingkat menjadi Ig, terdiri atas 5 sub-tipe, yaitu G, A, M, D dan E.
namun dalam hal ini, imunoglobin yang terlibat adalah dari jenis E.

Proses pengaktifan system pertahanan tubuh humoral ini dikenal melalui jalur khusus Th2 atau jalur yang biasa digunakan untuk mengaktifkan system pertahanan tubuh yang bersifat cair.
Sedangkan jalur yang satu lagi diebut jalur Th1, yaitu jalur untuk mengaktifkan system pertahanan tubuh seluler atau menggunakan sel-sel pertahanan tubuh seperti sel limfosit dan makrofag.
Apa yang terjadi pada mereka yang tidak lagi memiliki cacing didalam perutnya?

Bagi wanita system pertahan tubuh seluler akan semakin aktif menjaga dan meronda disekitar rahim dan alat peranakan lainnya.

Akibatnya sel nutfah dari suami akan sulit menembus benteng pertahanan dan tentu saja akan gagal membuahi.

Sel-sel dari jalur Th1 akan memeriksa dengan penuh kecurigaan setiap pendatang baru yang mencoba memasuki daerah rahim dan saluran telur.

Bahkan, jika pendatang baru itu lolos dan sempat membuahi sel telur, sel-sel penjaga yang ganas itu akan menghalang-halangi proses pelekatannya didinding rahim.

Bagi mereka, calon mudgoh yang sebenarnya mengandung unsure ibu yang merupakan induk semangnya, tetap dianggap sebagai makhluk asing.
Apa dampak bagi pria? Wah yang ini lebih parah lagi.

Secara teoritis, seorang pria yang tidak lagi mampu menjadi manajer yang mengayomi dan memberikan naungan perlindungan pada umat cacing, ia akan lebih berisiko mengalami penyakit jantung koroner.

Beranjak dari hal tersbut, kita patut menafkuri kesempurnaan system ciptaan Alloh, jejaring fungsi antar elemen ciptaan-Nya mampu menghasilkan hubungan sebab akibta yang sangat rumit. Jika seorang pria tidak lagi memiliki cacing dalam tubuhnya, jalur Thnya atau jalur system pertahanan tubuh berbasis selulernya akan cenderung meningkat secara pesat dan juga agak menjadi agak beringas.

Hal ini mungkin merupakan bentuk parodi yang diberikan Alloh kepada kita agar kita mampu untuk mentertawai diri sendiri dan tidak menjadi pribadi yang malas untuk berintrospeksi. Sifat-sifat dasar itu, baik yang baik ataupun yang buruk, dapat dicermati diberbagai tingkatan kehidupan.
Kembali kepada beringasnya sel-sel pertahanan tubuh pada pria yang tidak memiliki cacing, ternyata hal ini dapat dijelaskan dengan mekanisme yang sama dengan sulit hamilnya wanita yang tidak cacingan. Ketiadaan cacing akan menghambat pengaktifan Th2.

Akibatnya, terjadi ketidak seimbangan antara jalur Th1 dan Th2. Padahal Alloh telah membangun pondasi keteraturan dialam semesta ini melalui sebuah proses keseimbangan (equilibrium).
Jalur Th1 yang terlalu aktif, pada gilirannya akan menyebabkan proses radang kerap terjadi didalam tubuh, termasuk di dinding pembuluh darah (endotel). Karena radang yang berulang, tubuh memproduksi radikal bebas yang pada gilirannya dapat meradikalisasi gugus lemak. Gugus lemak radikal akan bekerjasama dengan dinding pembuluh darah yang juga telah rusak dan bersinergi membangun sumbatan. Inilah yang dinamakan dengan proses aterosklerosis. Jika sumbatan ini terjadi di pembuluh darah koroner, yaitu pembuluh darah yang menyuplai sari makanan dan oksigen bagi otot jantung, terjadilah penyakit jantung koroner, yaitu jantung dapat berhenti berdetak karena tidak lagi mendapatkan makanan dan oksigen.

Sumber: buku “Jangan Ke Dokter Lagi” karya Tauhid Nur Azhar dan Bambang Trim