SELAMAT DATANG DI BLOG http://bogor1975.blogspot.com SEMOGA ADA ARTIKEL BERMAMFAAT YANG DI DAPAT DARI KUNJUNGAN SAUDARA DI BLOG INI TERIMAKASIH
REGISTRASI KLIK DISINI

Selasa, Mei 01, 2012

APAKAH GUNUNG SALAK DI BOGOR MASIH BISA MELETUS..?

BOGOR-Jawa Barat (Jabar) memiliki tujuh gunung berapi aktif Tipe A. Salah satunya Gunung Salak. Gunung di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi ini sewaktu-waktu bisa meletus. Namun, kondisinya saat ini masih normal.


Gunung Salak merupakan salah satu gunung berapi dengan letak astronomis puncak gunung pada 643' LS dan 10644'BT. Berdasarkan buku Almanak Sejarah Indonesia Peristiwa dan Tokoh, Salak sudah enam kali meletus. Rangkaian letusan itu terjadi antara 1668-1899, 1780, 1902, 1903 dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri. Meski kini statusnya normal, warga yang berada di kaki gunung tersebut diminta selalu waspada.
Koordinator Forecast Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor, Agus Heru mengatakan, pihaknya akan membantu menganalisis serta menentukan arah angin beberapa bulan ke depan. Itu penting untuk mengetahui aliran erupsi jika Salak meletus. Ia mengatakan, pihaknya akan mencari kemungkinan daerah mana yang terimbas debu vulkanik bila Salak memuntahkan lava magma. “Kita bisa ambil ratarata arah angin per bulannya berdasarkan arah angin harian,” ujar Agus.

Sementara itu, Sejarawan Jawa Barat, Eman Sulaeman menuturkan bahwa Gunung Salak mengalami dua kali letusan dahsyat. Pertama, pada 4-5 Januari 1669 dan 10 Oktober 1834.

Pada letusan pertama, terang Eman, wilayah Bogor luluh lantak akibat diterjang gempa vulkanik disertai hujan batu dan abu. Saat itu, Bogor masih dipimpin pemerintahan Agraris Maritim menuju feodal di bawah kepemimpinan keturunan Prabu Siliwangi.

Wilayah Ciapus dan Tamansari mengalami kerusakan terparah karena aliran lava magma menyusuri Sungai Cisadane dan Ciapus. “Saat itu juga dikabarkan banyak korban jiwa, namun jumlahnya tak tercatat karena literatur sejarah saat itu sangat minim,” terang Eman.

Ketua Yayasan Budaya Hanjuang Bodas ini mengatakan, data meletusnya Salak yang pertama itu didapat dari catatan sejarah Wangsakerta (keturunan Kerajaan Cirebon) serta catatan tentara Portugis dan Belanda. “Saat letusan pertama itu, Kota Bogor masih kampung dan sebagiannya hutan. Berdasarkan catatan sejarah itu, Kota Bogor tertutupi abu vulkanik,” kata Budayawan Jawa Barat ini.

Ia menambahkan, saat letusan pertama pada zaman kerajaan, jumlah penduduk Bogor masih sedikit. Dari catatan histori, pada 1513 jumlah penduduk Bogor hanya 50.000 jiwa. “Sejak itu, banyak pendatang ke Bogor, mulai Portugis, Belanda dan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia,” tutur pemain serial televisi Keluarga Cemara ini.

Sementara itu, letusan terbesar kedua, menurut Eman, terjadi pada 10 Oktober 1834. Saat itu, Istana Bogor rusak berat akibat guncangan gempa dan semburan abu vulkanik. “Kala itu, Bogor menjadi pelataran putih, banyak bangunan yang roboh dan seluruh wilayahnya tertutupi abu,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah Salak berpotensi meletus lagi, Eman dengan tegas menjawab tak mungkin. “Kondisinya sudah terkikis akibat dua kali letusan besar itu,” tuturnya. 


Baca Juga artikel Update nya :

http://bogor1975.blogspot.com/2014/02/apakah-gunung-salak-masih-bisa-meletus.html

Mau tau dan lihat Photo dan Sejarahnya Bogor Join di group :

http://www.facebook.com/bogordansejarahnya