SELAMAT DATANG DI BLOG http://bogor1975.blogspot.com SEMOGA ADA ARTIKEL BERMAMFAAT YANG DI DAPAT DARI KUNJUNGAN SAUDARA DI BLOG INI TERIMAKASIH
REGISTRASI KLIK DISINI

Selasa, Februari 18, 2014

Apakah gunung salak masih bisa meletus ..?


Gunung kelud meletus lagi ..!! pulau jawa ini dari barat sampai timur dalam mata rantai gugusan gunung merapi yang masih aktiv , termasuk gunung salak di kawasan diantara bogor dan sukabumi. juga termasuk gunung gede. Apakah gunung salak masih bisa meletus

Berikut kutipan artikel dari sumber berita REPUBLIKA.CO.ID .
Tujuh kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat berada di daerah rawan bencana gunung meletus karena tepat di bawah kaki gunung api yang aktif yakni Gunung Gede dan Gunung Salak.

"Dari hasil pemetaan yang kami lakukan tujuh kecamatan tersebut tiga berada di bawah kaki Gunung Salak yakni Kecamatan Parakansalak, Kalapanunggal dan Kabandungan dan empat kecamatan lainnya berada di bawah kaki Gunung Gede yakni Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Sukaraja dan Sukalarang," kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Irwan Fajar kepada Antara, Jumat.

Menurut Irwan jika terjadi erupsi terhadap dua gunung yang masih aktif tersebut maka dampaknya akan cukup besar bagi warga yang tinggal di tujuh kecamatan tersebut, karena jaraknya yang cukup dekat dengan gunung tersebut karena tepat berada di bawah kaki gunung.

Lebih lanjut, untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan jika terjadi erupsi terhadap kedua gunung tersebut maka pihaknya jauh hari sudah melakukan pencegahaan untuk meminimalisir dampak dari bencana tersebut. Langkah pencegahan tersebut seperti melakukan sosialisasi penanggulangan bencana kepada warga.

"Kami juga sudah berkoordinasi baik dengan pemkab setempat maupun Pemprov Jabar untuk menyedikan jalur evakuasi khusus bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana," tambahnya.

Wilayah Kabupaten Sukabumi yang dikelilingi dua gunung aktif, tidak hanya tujuh kecamatan saja yang bisa terkena dampak jika terjadi erupsi, tetapi puluhan kecamatan lainnya juga dipastikan akan terkena dampaknya minimalnya terkena semburan abu atau debu vulkanik.

Maka dari itu, Irwan mengimbau kepada warga walaupun saat ini kedua gunung tersebut masih aman dan tidak ada gejala akan erupsi tetapi alangkah baiknya selalu waspada dan bisa melihat tanda-tanda alam karena bencana tidak bisa diprediksi seperti bencana meletusnya Gunung Kelud.

"Upaya yang dilakukan jika terjadi bencana itu pertama selamatkan keluarga dan mengungsi ke tempat yang lebih aman dan yang terpenting tidak panik serta mematuhi petunjuk dari petugas keamanan dan tim penyelamat," kata Irwan.

Berikut ini sejarah meletusnys Gunung salak.


Tragedi Meletusnya Gunung Salak 1699

Pada malam hari tanggal 4/5 Januari 1699, Gunung Salak meletus dengan iringan gempa bumi yang sangat kuat. Sebuah catatan dari tahun 1702 menceritakan keadaan yang diakibatkannya: “Dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane di belakang bekas keraton raja-raja Jakarta yang disebut Pakuan yang asalnya berupa hutan besar, setelah terjadi gempa bumi berubah menjadi lapangan yang luas dan terbuka tanpa pohon-pohonan sama sekali.
Letusan menyebabkan adanya‘belahan tengah’, seperti yang terlihat dari jauh ada lembah besar yang menganga ke arah utara. Pada saat letusan besar ini batu batuan, pohon pohonan, lumpur lahar mengalir deras melalui Cisadane, dan sebagian sebaran batu batuan yang terlempar membuat daerah lereng dan kaki gunung bagian utara banyak terisi batu batuan seperti yang banyak dijumpai saat ini.
Gambar
Pemandangan di sekitar Gunung Salak tahun 1888
( photo: koleksi Museum Volkenkunde )
Permukaan tanah tertutup dengan tanah liat merah yang halus, seperti yang biasa digunakan tukang tembok. Di beberapa tempat telah mengeras sehingga dapat menahan beban langkah yang berjalan di atasnya, tetapi pada tempat- tempat lain orang dapat terbenam sedalam satu kaki.Di tempat bekas keraton yang disebut Pakuan yang terletak di antara Batavia dengan Cisadane belum pernah terjadi bencana lain yang menyebabkan tanah tersobek dan pecah terbelah-belah menjadi retakan-retakan besar yang lebih dari satu kaki lebarnya”.
Berita lain mencatat bahwa aliran Ciliwung dekat muaranya tersumbat sepanjang bebebrapa ratus meter akibat lumpur yang dibawanya. Van Riebeeck yang membersihkan sumbatan itu mengajukan tuntutan agar tanah Bojong Manggis dan Bojong Gede diberikan kepadanya sebagai upah.

Untuk meneliti akibat gempa ini, Kumpeni mengirimkan ekspedisi Ram & Coops dalam tahun1701 ke kaki Gunung Pangrango. Dari survey ini diberitakan bahwa aliran Cikeumeuh masuk terbenam ke dalam tanah dan sobekan Puncak Gunung Salak menghadap ke arah barat laut. Diperkirakan, bahwa tanah yang terbelah hebat itu terjadi antara Ciliwung dan Cisadane. 

[Panen batu dan pasir di daerah Ciapus saat ni adalah merupakan hadiah yang ditinggalkan oleh letusan Gunung Salak].

Tidak ada berita mengenai nasib penduduk sepanjang aliran Ciliwung waktu itu. Hanya saja pada tahun 1701, penduduk Kampung Baru masih dapat mengantar Ram & Coops. Selain itu Abraham van Riebeeck tidak mencatat apa-apa mengenai sisa-sisa akibat letusan itu. 
Ini menunjukkan bahwa kehidupan penduduk yang masih jarang itu tidak terganggu. 
Tahun 1704 Van RiebeecK mendirikan pondok peristirahatan di Batutulis karena ia menganggap Gunung Salak sudah tidak menakutkan lagi.

Letusan Gunung Salak berikutnya terjadi pada tahun 1761 dan 1780, namun kedua letusan ini tidak terlalu besar seperti letusan yang terjadi pada tahun 1699 sebelumnya itu.

Pada tahun 1834 terjadi gempa bumi 
( kemungkinan gempa volcanic juga ) namun tidak tercatat adanya letusan gunung lagi. 
Gempa ini cukup kuat karena dapat merobohkan sebagian 
bangunan Governor Palace ( Istana Bogor sekarang ).


Istana Bogor tampak bagian depan istana yang runtuh
akibat gempa bumi besar

Akibat gempa bumi besar Kemudian Governor Palace ini dibangun lagi 
dengan model yang bertahan dan terlihat sampai saat ini.


Gambar
Istana Bogor 1842


Perjalanan istana Bogor dari masa ke masa


Gambar
Istana Bogor 1895 – 1905
Gambar
Istana Bogor sekarang
Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. 
Tercatat terjadi beberapa kali letusan sejak tahun 1600-an 
diantaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935.
Sementara itu letusan Gunung Salak terakhir berlangsung 
pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.

Gunung setinggi 2221 m di atas permukaan laut (dpl) tersebut memiliki beberapa puncak. Puncak tertinggi disebut Salak I setinggi 2211 m dpl disusul kemudian puncak Salak II setinggi 2180 m dpl dan puncak Sumbul setinggi 1926 m dpl.

Beberapa kejadian gempa-gempa tektonik pernah terjadi beberapa tahun 
belakangan yang sewaktu-waktu bisa memicu aktivitas vulkani di Gunung Salak. 
Kemungkinan bahwa Gunung Salak bisa meletus kembali memang masih menjadi penelitian pihak terkait namun potensi untuk meletus akan selalu ada sejak Gunung tersebut masih terbilang aktif.

Artikel dan gambar dari beberapa sumber :

http://www.bogorheritage.net

Lihat sejarah Bogor Join di Group  :
http://www.facebook.com/bogordansejarahnya